Konflik sosial

KONFLIK SOSIAL

Oleh : Ahmad Farih Ibnu hajar

A. Pengertian :

}  Konflik berasal dari bahasa latin configere yang artinya saling memukul.

}  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik di definisikan sebagai percekcokan, perselisihan, atau pertentangan.

}  Secara sosiologis konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

}  Konflik lahir dari adanya perbedaan – perbedaan.

}  Soerjono Soekanto menyebut konflik sebagai suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan , yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.

}  Soerjono Soekanto mengatakan bahwa “perasaan” memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaan – perbedaan. Perasaan – perasaan seperti amarah dan rasa benci , mendorong tiap pihak untuk menekan dan menghancurkan individu atau kelompok yang menjadi lawan.

}  Lewis A Coser berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, dan sumber daya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

Secara sederhana konflik sosial adalah :

}  Suatu proses sosial : kontak dan komunikasi

}  antara dua orang atau lebih

}  berusaha menyingkirkan/menghancurkan pihak lain

}  dengan ancaman atau kekerasan

B. Faktor – faktor penyebab konflik sosial :

}  Sebagai proses sosial , konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri – ciri yang dibawa individu yang terlibat dalam suatu interaksi.

}  Perbedaan – perbedaan tersebut meliputi perbedaan fisik, kepentingan , kebutuhan , pengetahuan, adat istiadat, dan keyakinan.

}  Pada prinsipnya konflik dapat terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang terhalang upayanya dalam mencapai tujuan.

Soerjono Soekanto mengemukakan empat faktor yang dapat  menyebabkan konflik dalam masyarakat.

}  Perbedaan Antarindividu

}  Perbedaan Kebudayaan

}  Perbedaan Kepentingan

}  Perubahan Sosial

C. Bentuk – Bentuk Konflik Sosial:

Lewis A. Coser .

}  Konflik Realistis, misalnya para karyawan yang mengadakan pemogokan melawan manajemen perusahaan.

}  Konflik nonrealistis, misalnya dalam masyarakat tradisional , pembalasan dendam lewat ilmu gaib.

Soerjono Soekanto.

}  Konflik in group dan konflik out group.

}  Konflik pribadi

}  Konflik rasial

}  Konflik antara kelas – kelas sosial

}  Konflik politik

}  Konflik yang bersifat Internasional

D. Dampak Sebuah Konflik

}  Meskipun konflik sosial merupakan proses disosiatif yang mengarah pada kemungkinan terjadinya kekerasan, konflik juga merupakan suatu proses sosial yagn mempunyai segi positif bagi masyarakat.

}  Konflik dikatakan positif jika tidak bertentangan dengan pola – pola hubungan sosial di dalam struktur sosial.

}  Hal itu disebabkan oleh adanya kecenderungan individu untuk menyesuaikan kembali norma – norma dan hubungan – hubungan sosial dalam kelompok.

}  Menurut Lewis A. Coser , konflik merupakan peristiwa normal yang dapat memperkuat struktur hubungan – hubungan sosial. Tidak adanya konflik dalam sebuah masyarakat tidak dapat dianggap sebagai petunjuk kekuatan dan stabilitas hubungan sosial masyarakatnya.

}  Konflik yang diungkapkan dapat merupakan tanda hubungan sosial yang hidup dan dinamis.

}  Sebenarnya, masyarakat yang memperbolehkan terjadinya konflik adalah masyarakat yang cenderung terhindar dari kemungkinan ledakan konflik dan kehancuran struktur sosial.

Segi postif dan negatif suatu konflik:

}  Konflik dapat memperjelas aspek – aspek kehidupan yang belum jelas.

}  Konflik memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma – norma, nilai – nilai serta hubungan sosial

}  Konflik meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok.

}  Konflik dapat membantu menghidupkan kembali norma – norma lama dan menciptakan norma – norma baru.

}  Keretakan hubungan antarindividu dan persatuan kelompok

}  Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia.

}  Berubahnya kepribadian para individu. Sebagai contoh , konflik memunculkan rasa benci, curiga atau menjadikan perkelahian sebagai solusi atas sebuah permasalahan.

Munculnya dominasi kelompk pemenang atas kelompok yang kalah

E. Cara Pengendalian Konflik

}  Konsiliasi. Bentuk pengendalian seperti ini dilakukan melalui lembaga – lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi dan penngambilan keputusan yang adil di antara pihak – pihak yang bertikai.

}  Mediasi. Pengendalian konflik dengan cara mediasi dilakukan apabila kedua pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Pihak ketiga ini akan memberikan pemikiran atau nasihat – nasihatnya.

}  Arbitrasi. Kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk menerima atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan – keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik.

 

Fenomena Bunuh Diri di Mal Bisa Dipicu Gangguan Jiwa

aSerangkaian kasus bunuh yang terjadi akhir-akhir ini menjadi fenomena memprihatinkan.  Dalam sepekan terakhir, tercatat setidaknya lima kasus bunuh diri, dan tiga di antaranya dilakukan dengan cara melompat dari lantai atas pusat perbelanjaan.

Masih lekat dalam ingatan, betapa mengenaskan peristiwa tewasnya seorang perempuan muda bernama Ice yang  menjatuhkan diri dari Lantai 5 West Mall Grand Indonesia pada Senin (30/11) lalu. Pada hari yang sama, seorang pria muda bernama Reno juga loncat dari lantai 5 Mal Senayan City untuk mengakhiri hidupnya.

Korban ketiga yang diduga bunuh diri akibat loncat di mal adalah seorang pria berusia 37 tahun.  Pria bernama Richard Kurniawan ini dikabarkan jatuh dari lantai 7 pusat perbelanjaan Mangga Dua Square, Jakarta.

Maraknya kasus bunuh diri dalam sepekan terakhir ini tentu saja mengundang sebuah pertanyaan besar. Mengapa mereka begitu nekad mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak biasa?

Psikolog Klinis dari Fakultas Psikologi Univeritas Indonesia, Dra Yati Utoyo Lubis MA. PhD menganalisis, fenomena bunuh diri yang terjadi bisa saja dilatarbelakangi persoalan hidup yang rumit atau pun terkait dengan adanya gangguan jiwa.

Menurut Yatie, bila melihat pada situasi masyarakat saat ini, bunuh diri sangat mungkin terjadi karena korban tidak menemukan jalan keluar dalam mengatasi rumitnya problem yang dihadapi.

“Hanya orang-orang tertentu saja yang berani memilih jalan untuk bunuh diri. Mereka seperti menemukan jalan buntu dalam mengatasi persoalan hidup,” ujar Yati saat dihubungi Kompas.com, Jumat (4/12)

Faktor penyebab lain yang mungkin terjadi, kata Yati, adalah masalah gangguan jiwa pada orang yang bunuh diri. Ada beberapa jenis gangguan atau penyakit jiwa yang berkaitan dengan bunuh diri yaitu depresi berat dan schizophrenia atau gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak yang lebih akrab disebut penyakit gila.

“Mereka yang depresi berat biasanya dari kepribadian orang-orang yang tidak kuat dan tidak matang. Kalau matang, dia tentu coba akan mencoba mengatasinya alternatif lain, termasuk membicarakan masalahnya dengan orang ahli, sehingga ke depan ia tidak melihat suatu masalah sebagai sebuah dinding yang tidak bisa ditembus,” ungkap mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Rata-rata mereka yang bunuh diri, lanjut Yati, seperti tidak melihat adanya jalan lain dalam menyelesaikan persoalan. Contoh sederhana misalnya  mereka yang mengidap penyakit yang tidak sembuh-sembuh dan sangat menderita akibat penyakitnya.

Bonek, sebuah Fenomena sosial

Bonek, atau disebut juga Bondo Nekat, kembali berbuat ulah dengan keberingasannya. Pengrusakan, tawuran, dan anarkisme seakan tak pernah hilang dari sekelompok suporter dari Surabaya ini. Sejak seminggu kemarin sampai sekarang, kita diperlihatkan kembali tentang ulah anarkis para bonek, mulai dari pengrusakan bus Arema saat Persebaya melawan Arema Indonesia, kemudian berlanjut ketika ratusan bonek yang mendukung Persebaya ketika menghadapi Persib yang juga membuat ulah, baik sepanjang perjalanan maupun ketika berada di Stadion. Kita bisa melihat ratusan suporter bonek menduduki Stadion Karawang, kandang Pelita Jaya dan saling lempar dengan suporter tuan rumah. Pun demikian ketika para bonek ini melakukan aksi anarkis sampai seorang wartawan Koran doi Solo pun terkena imbas anarkisme bonek. Lalu ketika ditotal, jumlah kerugian akibat pengrusakan Bonek dari PT KA mencapai 1 miliar rupiah (sumber : kompas edisi 25/01), sedangkan dari panitia pelaksana pertandingan di beberapa pertandingan yang diikuti Bonek mencapai 105 juta rupiah. Kita pun tentu masih ingat aksi – aksi beringas para bonek sebelum ini. Seperti pada tiga tahun lalu, ketika ribuan bonek turun ke lapangan Gelora 10 November dan mengamuk, membakar dan merusak fasilitas stadion Gelora 10 November saat itu ketika Timnya, Persebaya dikalahkan Arema Malang. Dan itu baru sedikit dari catatan – catatan negatif dari Bonek ini yang menghiasi perhelatan Liga sepakbola di Indonesia. Beberapa peristiwa kekacauan yang disebabkan para bonek ini antara lain adalah kerusuhan pada pertandingan Copa Dji Sam Soe antara Persebaya Surabaya melawan Arema Malang pada 4 September 2006 di Stadion 10 November, Tambaksari, Surabaya. Selain menghancurkan kaca-kaca di dalam stadion, para pendukung Persebaya ini juga membakar sejumlah mobil yang berada di luar stadion antara lain mobil stasiun televisi swasta, mobil milik Telkom, sebuah mobil milik TNI Angkatan Laut, sebuah ambulans dan sebuah mobil umum. Sementara puluhan mobil lainnya rusak berat. Atas kejadian ini Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman (sebelum banding) dilarang bertanding di Jawa Timur selama setahun kepada Persebaya, kemudian larangan memasuki stadion manapun di seluruh Indonesia kepada para bonek selama tiga tahun.Ulah anarkis Bonek tersebut tentu memicu reaksi beberapa kalangan masyarakat. Di Solo misalnya, sekelompok warga melempari kereta yang mengangkut Bonek dari Bandung ke Surabaya, dan masih banyak lagi aksi reaktif yang timbul akibat ulah para bonek ini. Yang menjadi sebuah pertanyaan bagi kita bersama, sebenarnya apa itu bonek? Siapakah para bonek yang anarkis ini? Mengapa sampai sedemikian menimbulkan kontroversi di berbagai kalangan?

Bonek, atau disebut bondo nekat merupakan sekumpulan suporter fanatik kesebelasan Persebaya Surabaya. Saking fanatiknya, kemanapun Persebaya bertanding, bonek selalu setia untuk menemani Tim kesayangannya tersebut. Tak peduli tidak mempunyai uang, dan harus mendapatkan kursi di atap – atap kereta, dan bahkan jiwa pun menjadi taruhannya, yang penting bisa menemani Persebaya bertanding. Sebenarnya, Suporter Bonek yang dibentuk pada tahun 1988, tujuan awalnya adalah mewarisi semangat perjuangan arek – arek Suroboyo ketika mengusir penjajah pada November 1945. Seperti kita ketahui bersama, dengan begitu heroiknya arek – arek suroboyo ketika itu dengan semangatnya mampu mengalahkan penjajah Belanda di Surabaya. Walupun Surabaya menjadi membara, dan jiwa pun menjadi taruhan, yang utama adalah membebaskan tanah Surabaya dari para penjajah Belanda. Itulah filosofi awal dibentuknya Bonek oleh Yayasan Suporter Surabaya yaitu untuk menerapi jiwa semangat arek – arek suroboyo untuk membela Surabaya, yang dalam konteks ini adalah Persebaya Surabaya. Sebuah tujuan yang mulia memang, namun seiring perjalanan waktu, ternyata tujuan itu tak sesuai dengan tujuan awalnya, bahkan cenderung berbelok bahkan berbalik 360 derajat. Kalau boleh dibandingkan, bonek di Indonesia hampir sama dengan suporter garis keras Inggris, hooligans. Hooligans adalah supporter garis keras Inggris yang aksinya hampir sama dengan bonek, selalu diwarnai dengan Anarkisme dan Brutalisme.  Tetapi akhir – akhir ini nama hooligans dan aksinya sudah jarang muncul kepermukaan. Dan tentu itu adalah sebuah kemajuan bagi sepakbola Inggris. Tetapi mengapa bonek belum jera dengan aksi  anarkismenya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bonek?

Tawuran, pengrusakan, kata – kata kasar seakan sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan dari dada para bonek ini. Memang, dulu arek – arek suroboyo juga melakukan aksi pengrusakan ketika melawan penjajah belanda, tetapi itu  adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan untuk mengusir penjajah. Lalu, saat ini arek – aerk suroboyo yang tergabung dalam bonek sering melakukan aksi anarkisme, dan itu harus dibedakan. Konteksnya sudah berbeda. Tidak ada lagi penjajah belanda, tetapi yang ada adalah milik kita, masyarakat dan Negara Indonesia. Ketika kita korelasikan antara anarkisme bonek dengan Sepakbola kita, justru tentunya akan memperburuk citra Sepakbola Indonesia, justru semakin akan menenggelamkan prestise Sepakbola Indonesia. Dan tentu itu akan menambah kelam persepakbolaan kita yang secara prestasi juga tidak bisa kita banggakan.

Namun, bonek adalah bonek. Bonek adalah salah satu fenomena sosial masyarakat Indonesia. Dengan ciri khasnya, anarkis, brutal, dan nekat akan selalu menghiasi Sepakbola  Indonesia. Bonek, yang rata – rata adalah golongan kaum menengah kebawah masyarakat Surabaya yang hanya bermodalkan nekat ketika harus mendukung timnya kemanapun perginya memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari persepakbolaan kita. Dan fenomena sosial berupa bonek ini nampaknya memerlukan penanganan serius, bertahap dan tepat sasaran guna memberikan solusi yang solutif bagi perkembangan persepakbolaan nasional. Sulit memang menghilangkan citra anarkis para bonek di pentas persepakbolaan nasional, bahkan salah satu teman di jejaring facebook sempat memberikan coment : “ nek ora tawur jenenge yo dudu bonek” (kalau tidak berkelahi namanya ya bukan bonek). Dan itulah bonek dengan segala fenomenanya yang menggemparkan. Dan nampaknya untuk menyelesaikan masalah ini, harus diselesaikan dari semua pihak terkait. PSSI, YSS, masyarakat, Pemerintah dan para bonek harus duduk bersama untuk membahas masalah ini. Bukan kemudian hanya membentuk pansus saja yang bahkan pansus itu malah bertengkar sendiri, tetapi membutuhkan terapi bertahap dan tepat sasaran yang tentunya tujuannya adalah untuk membuat persepakbolaan Indonesia menjadi lebih baik. Bonek yang memang secara latar belakang strata sosial berasal dari golongan menengah kebawah (kaum marginal) yang secara ekonomi rata – rata dibawah standar memang menjadi sebuah kewajaran ketika kondisi psikologisnya menjadi seperti itu. Mudah marah, emosional, penuh dengan semangat, gotong royong, dan memiliki semangat kebersamaan yang sangat tinggi telah menjadi ciri khas yang ada dalam pribadi – pribadi kaum marginal, termasuk juga adalah bonek. Oleh karena itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika menyelesaikan permasalahan bonek ini, perlu adanya kerjasama dari semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini. Dan saya kira, sanksi yang diberikan oleh KOMDIS dalam beberapa waktu terakhir tidak akan menyelesaikan maslalah anarkisme bonek ini, karena dengan sanksi itu justru malah menambah tingkat militansi para bonek.

Usaha dari Komisi Disiplin untuk memberikan sanksi kepada bonek tidak boleh mendukung dengan atribut Persebaya selama empat tahun merupakan salah satu usaha untuk menyelesaikan masalah ini, dan semoga itu akan membuat para bonek menjadi jera.

Tetapi dari bonek, diluar sikap anarkisme bonek yang terjadi dan sudah melekat pada diri bonek, kita tentu patut untuk mengapresiasi sikap – sikap bonek yang lainnya, yaitu sikap militansi, semangat, kerja keras, kesetiaan dan pantang menyerah yang dimiliki bonek dan sepertinya sekarang jarang dimiliki oleh sebagian masyarakat Indonenesia, yang jarang dimiliki oleh para pemimpin kita. Walau bagaimanapun, bonek tetaplah bonek. Dan kan menjadi sebuah fenomena tersendiri di bangsa ini. Bravo Sepakbola Indonesia!!

Dukung pulau komodo

komodo

Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah barat Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.

Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong. Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita ini berawal dari Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti. Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis “New Seven Wonders of Nature” yang baru diumumkan pada Juli 2010 melalui voting secara online di www.new7wonders.com.

Saat ini salah satu dari kekayaan Indonesia, yaitu pulau komodo telah memasuki 28 finalis New7Wonders of Nature(sejak 21 Juli 2009). Semenjak promo ini diadakan pada 070707, para panelis telah melakukan penilaian dan pemilihan hingga akhirnya ditemukan 28 finalis dari 77 kandidat paling top. Deklarasi 7 keajaiban alam dunia akan dilakukan pada tahun 2011. Semenjak tanggal 21 Juni 2009, voting dibuka untuk umum, dan akan direkap tiap tahunnya, tahun 2010 ini akan terpilih 14 terbaik, kemudian tahun 2011 akan dinobatkan 7 terbaik. Sebelum dibuka voting secara umum, pemilihan kandidat dilakukan oleh panelis dengan beberapa parameter penilaian, yaitu:
1. Keindahan & keunikan situs yang ditunjuk
2. Keragaman dan distribusi (diperhitungkan dalam 7 groups)
3. Ecological (dalam hal baik eko-sistem yang berdiri sendiri dan/atau maknanya bagi manusia)
4. Warisan sejarah (bahwa manusia dan/atau penduduk asli telah atau memiliki hubungan dengan situs)
5. Lokasi geografis (distribusi 28 Finalis dari semua benua)

5

LPI Vs PSSI Liga Premier Indonesia SAINGAN Liga Super Indonesia

lpi

 

PERBANDINGAN Liga Super Indonesia PSSI dengan Liga Premiere Indonesia LPI:

Liga Super Indonesia PSSI

LSI dengan payung PSSI.
Afiliasi regional: AFC
Afiliasi Internasional : FIFA

– Struktur Saham:
Yayasan: 5 persen
Klub: 0 persen
PSSI: 95 persen

– Pembagian Hak Siar TV :
Hanya uang kompensasi siaran langsung : 0 persen

– Pembagian Sponsor Utama : 0 persen
Keuntungan : 100 persen untuk PSSI/PT Liga Indonesia

– Wasit : Lokal
– Sumber Dana : APBD
– Badan Yudisial : Komdis dan Komding PSSI
– Peserta : 18 klub
– Sponsor : PT. Djarum (Rp.41.5 milliar)
– Hadiah : rp.1,5 milliar

Liga Premiere Indonesia LPI:

LPI: dengan payung PSSI
Afilliasi Regional: AFC
Afiliasi Internasional: FIFA

– Struktur Saham:
Yayasan: 100 persen klub

– Pembagian Hak Siar TV:
Klub: 100 persen

– Pembagian Sponsor Utama :
Klub: 100 persen

– Keuntungan:
Share Klub Peserta: 80 persen
Untuk Pembinaan: 20 persen

– Wasit: Asing (2 tahun)
– Sumber Dana: Investasi Rp.15-20 milliar per klub
– Badan Yudisial: Komdis dan Komding LPI
– Peserta: 18-20 klub
– Sponsor: Konsorsium investor
– Hadiah: 5 milliar.

MENURUT ANDA, LEBIH BAIK ISL ATAU IPL?


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Eksistensi sosiologi di masyarakat

Sosiologi adalah ilmu tentang berbagai hubungan antar-manusia yang terjadi di dalam masyarakat. Diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” (filsafat politik), karangan Agust Comte.  Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Sosiologi Modern lahir di Eropa karena merupakan pusat pertumbuhan peradaban dunia sehingga beragam ilmu pengetahuan berkembang pesat, termasuk sosiologi.

Sosiologi ini mempunyai peranan yang sangat besar di dalam masyarakat. Semua aspek kehidupan masyarakat selalu ada dalam kajian sosiologi. Mulai dari hal yang kecila sampai yang besar di dalam masyarakat.

Eksistensi sosiologi, zaman dulu  belum begitu dikenal atau belum berkembang dengan pesat dimasyarakat.  Dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain, yang sudah berkembang dengan pesat. Dahulu  dalam hal ilmu pengetahuan , sosiologi hanya di ajarakan di SMA saja, sedangkan sekarang seiring dengan perkembangan zaman, sosiologi sudah di ajarkan di SMP. Dan dengan demikian, eksistensi sosiologi di masyarakat untuk sekarang ini, sudah berkembang. Hal ini ditandai dengan diberikannya pelajaran sosiologi di SMP. Tidak hanya itu saja, untuk sekarang ini juga sudah banyak universitas-universitas yang memberikan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sosiologi. Banyak manfaat yang kita peroleh dari mempelajari sosiologi, Sosiologi mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat, bukan sebagai individu yang terlepas dari masyarakat. Fokus bahasan sosiologi adalah interaksi antar manusia dan pengaruh yang ditimbulkan dari interaksi tersebut. Sehingga kita bisa berinteraksi dengan masyaralat dengan baik. Tidak hanya tentang interaksi saja yang dibahas oleh sosiologi, tetapi juga membahas tentang perubahan dan perkembangan dalam masyarakat.

Sosiologi sangat erat kaitannya dengan masyarakat, karena objek dari disiplin ilmu sosiologi itu sendiri adalah masyarakat. Masyarakat dalam segala aspek kehidupannya. kehidupan di dalam masyarakat selalu berubah – ubah itulah salah atu dalil – dalil yang ada di dalam ilmu sosiologi. Oleh karena itu keberadaan dari ilmu sosiologi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, yang fungsinya untuk memecahkan persoalan – persoalan yang terjadi di dalam masyarakat.Di dalam sosiologi. Memcahkan dalam arti bukan memberi jalan keluar melainkan hanya terbatas menggambarkan apa yang sedang terh=jadi atau dialami masyarakat tersebut. Karena dispilin ilmu sosiologi merupakan termasuk ke dalam kategori ilmu murni bukan terapan. Di dalam kategori ilmu murni dalam mempelajari ilmu tersebut hanya terbatas untuk meningkatkan mutu atau kualitas dari ilmu tersebut berdebda dengan ilmu – ilmu yang termasuk ke dalam ilmu terapan yang dipelajari untuk di aplikasikannya di dalam kehidupan.

Teori sosiologi

TEORI SOSIOLOGI KLASIK

Istilah teori sosiologis memiliki arti dan penggunaan yang beraneka ragam. Keanekaragaman sedemikian ini sering membingungkan para sosiolog dan orang – orang yang mempelajari sosiologi, karena antara dua orang atau lebih mungkin saja tidak sepaham mengenai arti teroritis dari sebuah ide (pemikiran). Kesalahpahaman sedemikian ini menyebabkan sesuatu ide tertentu bisa hilang atau salah diinterpasikan. Oleh karena ini adaklah bijaksana lkalau kita mencoba memahami secara sungguh – sungguh aneka ragam istilah “ teori dalam ilmu sosiologi tersebut, dan sekaligus memahami perbedaan – perbedaan penting yang muncul diantaranya. Teori bisa muncul dalam beberapa bentuk. Mungkin saja dia dinyatakan dengan jelas dan ringkas tetapi mungkinpula dinyatakan secarasamar – samar. Kenyataannya hampir semua karya teoritis mengenai satu pokok masalah mempunyai arti ganda dan oleh karenanya hampir dapat dipastikan bahwa dalam sebuah teori selalu ada peluanguntuk interpretasi dan re – evaluasi mengenai arti yang sesungguhnya dari sebuah teori. Mengenai arti ganda ini kiranya akan lebih nampak kalau kita mengamati secara teliti teori sosiologi itu, sekalipun untuk saat iniperlu juga ditekankan bahwa nampaknya pengertian ganda yang merugikan dalam pernyataan – pernyataan teoritis sering pula merupakan hal yang positif. Sebuah pengertian ganda merupakan akibat dari usaha kita untuk menginterpretasi kembalidan mengevaluasi teori yang merupakan bagian dari usaha untuk memajukan karya – karya teoritis pada ilmu –ilmu sosial pada umumnya. Berikut teori – teori sosiologi berdasarkan hasil pemikiran – pemikiran dari tokoh – tokoh sosiologi :

Auguste Comte Auguste Comte lahir pada tahun 1789 di kota Montepellier di Prancis selatan, dari orang tua yang menjadi pegawai kerajaandan penganut agama yang soleh. Comte merupakan murid dan skaligus sekertaris Saint simon. Ide – idenya banyak yang dipengaruhi dari pemikiran – pemikiran Saint Simmon. Hasil karya dari Auguste Comte yang terkenal dalah A course of positive Phylosophy. Beberapa sumber latar belakang pemikiran Comte : 1. Revolusi prancis dengan segala aliran pikiran yang berkembang pada masa itu. 2. Filsafat sosial yang berkembang di Prancis pada abad ke-18, khususnya filsafat yang dikembangkan oleh para penganut paham Encyclopedist. 3. Sumber ketiga yang melatarbelakangi pemikiran Comte adalah aliran raeaksioner dari para ahli pikir Theocratic, terutama yang bernama de maistre dan de bonald. 4. Sumber terakhir yang melatarbelakangi pemikiran Comte adalah lahirnya aliran yang dikembangkan oleh para pemikiran sosialistik, terutama yang diprakarsai oleh Saint Simmon. Teori – teori soial Comte : Auguste Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian : Social statics dan social dynamics. The law of three stages (tiga tingkatan pemikiran manusia) : Theologis/ fictitious. Methaphisik/ pemikiran yang abstrak Positive/ scientifict.

Max Weber lahir di Effurt, Jerman 21 April 1864. Ia berasal dari keluarga pedagang linendan produsen textile di Jerman bagian barat. Ayahnya Max Weber seorang ahli hukum dan penasihat kota praja, sedangkan ibunya Hellena FallensteinWeber adalah seorang wanita protestan terpelajar dan liberal. Weber tidak dibesarkan dengan kehidupan keluarga yang harmoni karena secara prinsip kepribadian antara ayah dan ibunya sangat berbeda.Weber sr adalah seorang tipikal yang borjuis sedangkan ibu Hellena menjalani kehidupan yang relijius dan sosial. Teori – teori yang dicetuskan Max weber 1. Tindakan sosial 2. Birokrasi 3. Etika Protesta dan spirit kapitalisme Bagi Weber sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tentang tindakan – tindakan sosial dengan menguraikannya dengan menerangkan sebab – sebab tindakan tersebut.Pokok penyelidikan weber adalah tindakan orang seorang dan alasan – alasanya yang bersifat subyektif, dan itulah yang disebutnya dengan Verstehende sociologie. Weber memisahkan empat tindakan sosial di dalam sosiologinya, yaitu : 1. Rational Instrumental (Zweck Rational) , 2. Rational yang berorientasi nila (wert rational) 3. Tindakan tradisional 4. Tindaka afeksi (affectual Keempat tindakan sosial inilah menurut Weber yang mempengaruhi pola – pola hubungan sosial serta struktur dalam masyarakat. Etika protestan dan spirit kapitalisme; Weber berpendapat bahwa; “ kapitalisme barat modern adalah bersumber di dalam agama protestan, spirit kapitalisme modern adalah protestanisme , yaitu yang merupakan aturan – aturan agama protestan tentang watak dan perilaku (rules of conduct) penganut – penganutnya di dalam kehidupan sehari – hari. Agama protestan menganggap bahwa kesenganan adalah sesuatu yang tidak baik , sebaliknya untuk mengagunkan Tuhan maka seseorang harus berhemat. Semangat protestan ini menurut Weber identik dengan spirit kapitalisme modern. Birokrasi; Menurut Weber , masyarakat terstratifikasi menurut basis ekonomi, kekuasaan, dan status. Weber mendefinisikan status sebagai setiap komponen tipikal kehidupan manusia yang ditentukan oleh estimasi sosial tentang derajat martabat tertentu , positif atau negatif.

Karl Marx : KarlMark lahir di Trier, Prussia pada tanggal 5 Mei 1818. Marx sesungguhnya keturunan orang borjuis. Kedua orang tuanya berasal dari rabi namun karena alasan bisnis ayahnya berganti agama menjadi lhuterian ketika Karl Marx masih sangat muda.Tahun 1841 Karl Marx memperoleh gelar doktor filsafatnya. Teori – teori Karl Marx : 1. Teori kelas 2. Teori Alienasi Empat unsur dasar alienasi : 1. Pekerja pada masyarakat kapitalis teralienasi dari aktivitas produktif mereka. 2. Pekerja teralienasi dari tujuan aktivitas produksi. 3. Pekerja dalam kapitalisme teralienasi dari sesama pekerja. 4. Pekerja dalam masyarakat kapitalis teralienaasi dari potensi kemanusiaan manusia itu sendiri.

Emile Durkheim : Emile Durkheim Lahir di Epinal propinsi Lorraine, Perancis Timur pada tanggal 15 April 1858. Dia termasuk dalam tokoh Sosiologi yang memperbaiki metode berpikir Sosiologis yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran logika filosofis tetapi Sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang benar apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi. Dia dilahirkan dalam keluarga agamis namun pada usia belasan tahun minat terhadap agama lebih akademis daripada teologis. Pada usia 21 tahun Durkheim diterima di Ecole Normale Superieure setelah sebelumnya gagal dalam ujian masuk. Di Universitas tersebut dia merupakan mahasiswa yang serius dan kritis, kemudian pemikiran Durkeim dipengaruhi oleh dua orang profesor di Universitasnya itu (Fustel De Coulanges dan Emile Boutroux). Teori-teori Emile Durkheim : 1. Teori Solidaritas (The Division of Labour in Society) Dalam buku ini menerangkan bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang melakukan pekerjaaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung satu sama lain. solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan / atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. • solidaritas mekanis : Solidaritas mekanis dibentuk oleh hokum represif karena anggota masyarakat jenis ini memiliki kesamaan satu sama lain, dan karena mereka cenderung sangat percaya pada moralitas bersama, apapun pelanggaran terhadap system nilai bersama tidak akan dinilai main-main oleh setiap individu. Pelanggar akan dihukum atas pelanggaranya terhadap system moral kolektif. Meskipun pelanggaran terhadap system moral hanya pelanggaran kecil namun mungkin saja akan dihukum dengan hukuman yang berat. • solidaritas organik : Masyarakat solidaritas organik dibentuk oleh hukum restitutif. Dimana seseorang yang melanggar harus melakukan restitusi untuk kejahatan mereka, pelanggaran dilihat sebagai serangan terhadap individu tertentu atau sekmen tertentu dari masyarakat bukannya terhadap sistem moral itu sendiri. Dalam hal ini, kurangnya moral kebanyakan orang tidak melakukan reaksi xecara emosional terhadap pelanggaran hukum. Durkheim berpendapat masyarakat modern bentuk solidaritas moralnya mengalami perubahan bukannya hilang. Dalam masyarakat ini, perkembangan kemandirian yang diakibatkan oleh perkembangan pembagian kerja menimbulkan kesadaran-kesadaran individual yang lebih mandiri, akan tetapi sekaligus menjadi semakin tergantung satu sama lain, karena masing-masing individu hanya merupakan satu bagian saja dari suatu pembagian pekerjaan sosial. 2. Fakta Sosial (The Rule Of Sociological Method) 3. Teori Bunuh Diri (Suicide) Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relative merupakan fenomena konkrit dan spesifik, di mana tersedia data yang bagus cara komparatif. Akan tetapi, alasan utama Durkheim untuk melakukan studi bunuh diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin Sosiologi. Dia melakukan penelitian tentang angka bunuh diri di beberapa negara di Eropa. Secara statistik hasil dari data-data yang dikumpulkannya menunjukkan kesimpulan bahwa gejala-gejala psikologis sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Menurut Durkheim peristiwa-peristiwa bunuh diri sebenarnya merupakan kenyataan-kenyataan sosial tersendiri yang karena itu dapat dijadikan sarana penelitian dengan menghubungkannya terhadap sturktur sosial dan derajat integrasi sosial dari suatu kehidupan masyarakat. Durkheim memusatkan perhatiannya pada 3 macam kesatuan sosial yang pokok dalam masyarakat: • Bunuh Diri dalam Kesatuan Agama • Bunuh Diri dalam Kesatuan Keluarga. • Bunuh Diri dalam Kesatuan Politik Kemudian data tahun 1829-1848 disimpulkan bahwa angka bunuh diri ternyata lebih kecil pada masa revolusi atau pergolakan politik, dibandingkan dengan dalam masa tidak terjadi pergolakan politik. Durkheim membagi tipe bunuh diri ke dalam 4 macam: • Bunuh Diri Egoistis Tingginya angka bunuh diri egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok di mana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya integrasi ini melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat, dan masyarakat bukan pula bagian dari individu. Durkheim menyatakan bahwa ada faktor paksaan sosial dalam diri individu untuk melakukan bunuh diri, di mana individu menganggap bunuh diri adalah jalan lepas dari paksaan sosial. • Bunuh Diri Altruistis Terjadi ketika integrasi sosial yang sangat kuat, secara harfiah dapat dikatakan individu terpaksa melakukan bunuh diri. Salah satu contohnya adalah bunuh diri massal dari pengikut pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana pada tahun 1978. contoh lain bunuh diri di Jepang (Harakiri). • Bunuh Diri Anomic Bunuh diri ini terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan tersebut mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan. Bunuh diri ini terjadi ketika menempatkan orang dalam situasi norma lama tidak berlaku lagi sementara norma baru belum dikembangkan (tidak ada pegangan hidup). Contoh: bunuh diri dalam situasi depresi ekonomi seperti pabrik yang tutup sehingga para tenaga kerjanya kehilangan pekerjangan, dan mereka lepas dari pengaruh regulatif yang selama ini mereka rasakan. • Bunuh Diri Fatalistis Bunuh diri ini terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim menggambarkan seseorang yang mau melakukan bunuh diri ini seperti seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas. Contoh: perbudakan 4. Teori tentang Agama (The Elemtary Forms of Religious Life) Dalam teori ini Durkheim mengulas sifat-sifat, sumber bentuk-bentuk, akibat, dan variasi agama dari sudut pandang sosiologistis. Agama menurut Durkheim merupakan ”a unified system of belief and practices relative to sacret things”, dan selanjutnya “ that is to say, things set apart and forbidden – belief and practices which unite into one single moral community called church all those who adhere to them.” Agama menurut Durkheim berasal dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat selalu membedakan mengenai hal-hal yang dianggap sacral dan hal-hal yang dianggap profane atau duniawi. Dasar dari pendapat Durkheim adalah agama merupakan perwujudan dari collective consciouness sekalipun selalu ada perwujudaan-perwujudan lainnya. Tuhan dianggap sebagai simbol dari masyarakat itu sendiri yang sebagai collective consciouness kemudian menjelma ke dalam collective representation. Tuhan itu hanya lah idealisme dari masyarakat itu sendiri yang menganggapnya sebagai makhluk yang paling sempurna (Tuhan adalah personifikasi masyarakat). Kesimpulannya, agama merupakan lambang collective representation dalam bentuknya yang ideal, agama adalah sarana untuk memperkuat kesadaran kolektif seperti ritus-ritus agama. Orang yang terlibat dalam upacara keagamaan maka kesadaran mereka tentang collective consciouness semakin bertambah kuat. Sesudah upacara keagamaan suasana keagamaaan dibawa dalam kehidupan sehari-hari, kemudian lambat laun collective consciouness tersebut semakin lemah kembali.

George Simmel Georg Simmel lahir tahun 1858 di pusat kota Berlin. Ayahnya seorang pedagang Yahudi kaya, yang masuk agama Kristen, dan meninggal ketika Georg masih sangat kecil, dan hubungannya dengan ibunya agak jauh. Sesudah kematian ayahnya, seorang teman keluarga itu diminta untuk menjaga Georg, dan kekayaan berupa uang yang ditinggalkan oleh pengasuhnya itu memungkinkan dia untuk mempertahankan suatu gaya hidup borjuis yang enak, meskipun selama karirnya dia tidak berhasil memperoleh uang. 1. Lingkungan social Simmel Semasa hidup Simmel, berlin merupakan pusat penting untuk pelbagai aliran intelektual. Perkembangan intelektual Simmel pasti sangat berhubungan dengan kenyataan bahwa selama hidupnya di menghadapi aliran-aliran ini, dan posisi marginalnya memungkinkannya untuk memilih tanpa memihak.Coser mengemukakan bahwa ketidakmampuannya untuk mempertahankan pendirian yang tidak memihak, merupakan reaksi terhadap korban marginalitas dan sikap objektif yang secara psikologis menumpuk. 2. Pengaruh intelektual Meskipun Simmel menolak model masyarakat organic (seperti yang di kembangkan comte di Prancis dan Spenser di inggris) dalam hal tertentu dia dipengaruhi oleh model evolusi Spenser mengenai kompleksitas social yang semakin bertambah. Spenser menggunakan model evolusi untuk berusaha menjelaskan perubahan masyarakat secara bertahap dari struktur yang sederhana dengan diferensiasi yang rendah dan sangat homogeny, ke suatu struktur yang lebih kompleks dengan diferensiasi serta heterogenitas yang tinggi. Publikasi Simmel yang berjudul On social Diferentiation, sangat jelas memperlihatkan pengaruh ini. Pengaruh yang lain terhadap Simmel yaitu seorang ahli filsafat jerman yang terkenal yaitu Immanual kant. Kant mengembangkan suatu perspektif filosofis yang didasarkan pada pembedaan antara persepsi manusia mengenai gejala dan hakikat dasar dari benda-benda seperti mereka berada dalam dirinya sendiri. Pengaruk Kant tercermin dalam pembedaan Simmel antara bentuk dan isi, yang secara kasarnya kira-kira sejajar dengan pembedaan Kant anatara ketegori pikiran yang bersifat a priori dan benda-benda empiris. Pengaruh lain yang yang dapat dilihat dari pendekatan Simmel adalah bentuk analisa Hegel yang bersifat dialektik. Simmel menganalisa konflik dialektik antara bentuk-bentuk social yang sudah mapan yang tercermin dalam institusi-institusi yang ada dan pola-pola budaya serta proses hidup sendiri, yang secara terus-menerus harus menciptakan bentuk baru bagi pengungkapannya sendiri. Sumbangan pemikiran Georg Simmel Simmel terkenal sebagai tokoh sosiologi formal yaitu Ia beranggapan bahwa Ia harus mempelajari bentuk-bentuk daripada interaksi social dan bukan mempelajari isi dari hubungan atau interaksi social. • Pemikiran Dialektis Dialektis yang dimaksud disini yaitu individu mengalami suatu kebingung dalam menentukan pilihan, dimana individu merupakan bagian dari masyarakat yang mempunyai aturan atau norma-norma yang harus dipatuhi, tetapi di lain sisi individu tersebut mempunyai kepentingan atau keinginan yang tidak sesuai dengan norma tersebut. Sebagai contoh konkrit yaitu pada system masyarakat Bali (jaman dahulu karena sekarang sudah luntur) dianjurkan untuk menikah dengan seseorang yang memiliki kasta yang sama, tetapi karena sudah terlanjur cinta kepada seseorang yang memiliki kasta lebih rendah, Individu tersebut tetap menikahi seseorang yang dicintainya dan melanggar aturan yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini menggambarkan suatu individu yang hidup dalam masyarakat, mensosialisasikan dirinya pada masyarakat tersebut, tetapi dilain pihak individu juga menentang aturan-aturan yang ada dalam masyarakat tersebut. • Interaksi social Dalam interaksi masyarakat Simmel lebih menekankan tentang bentuk-bentuk interaksi social. Simmel membedakan antara isi dan bentuk dari hubungan social, kata Simmel isi dan bentuk dari hubungan social merupakan dua gejala yang berbeda dan sebaiknya di pandang sebagai bagian yang masing-masing berbeda pula. Isi kehidupan social meliputi: insting erotic, kepentingan objektif, dorongan agama, tujuan membela dan menyerang, bermain, keuntungan, bantuan atau instruksi, dan lain-lain yang menyebabkan orang untuk hidup bersama dengan orang lain, untuk bertindak terhadap mereka, bersama mereka, melawan mereka, … untuk mempengaruhi orang lain dan untuk dipengaruhi oleh mereka. Sedangkan menurut bentuk-bentuk sosiasi menurut Simmel yaitu: superioritas dan subordinasi, kompetisi, pembagian kerja, pembentukan partai, perwakilan, solidaritas ke dalam, disertai dengan sifat menutup diri terhadap orang luar, dan sebagainya….” Bentuk ini bisa dimanifeskan dalam negara. Dalam komunitas agama, dalam komplotan, dalam suatu asosiasi ekonomi, dalam sekolah kesenian, dalam keluarga”. Bentuk-bentuk interaksi social 1. Sosiabilita 2. Hubungan seksual 3. Superordinasi 4. Subordinasi

Ferdinand Tonnies lahir pada tahun 1855 dan wafat pada tahun 1936. Ia merupakan salah seorang sosiolog Jerman yang turut membangun institusi terbesar yang sangat berperan dalam sosiologi Jerman. Dan ia jugalah yang melatarbelakangi berdirinya German Sosiological Association ( 1909, bersama dengan George Simmel, Max Webber, Werner Sombart, dan lainnya ). Ferdinand Tonnies memiliki berbagai karya diantaranya Gemeinschaft dan Gesellschaft (yang dipublikasikan pertamakali pada tahun 1887) yang selanjutnya diedit dan di alihbahasakan kedalam bahasa Inggris menjadi Community and Society (1957) oleh Charles P. Loomis, karyanya yang lain yang berupa essai-essai tentang sosiologi terdapat di dalam bukunya Einfuhrung in die Soziologie (An Introduction to Sociology). Diakhir usianya Tonnies adalah seorang yang aktif menentang gerakan NAZI di Jerman dan seringkali ia diundang menjadi Professor tamu di University of Kiel, setelah hampir masa hidupnya ia gunakan untuk melakukan penelitian, menulis, dan mengedit karya para sosiolog dimasanya Sumbangan Pemikiran Tonnies A. Gemeinschaft dan Gesellschaft Seperti dipaparkan sebelumnya, bahwa Tonnies memiliki teori yang penting yang akhirnya berhasil membedakan konsep tradisional dan modern dalam suatu organisasi sosial, yaitu Gemeinschaft (yang diartikan sebagai kelompok atau asosiasi) dan Gesellschaft (yang diartikan sebagai masyarakat atau masyarakat modern-istilah Piotr Sztompka). Setelah sebelumnya Weber menegaskan bahwa ia melihat bahwa perubahan masyarakat terlihat pada kecenderungan menuju rasionalisasi kehidupan sosial dan organisasi sosial di segala bidang (pertimbangan instrumental, penekanan efisiensi, menjauhkan diri dari emosi dan tradisi, impersonalitas, manajemen birokrasi dan sebaliknya). Senada dengan hal itu, Durkheim menegaskan bahwa perkembangan pembagian kerja pun akan didikuti integrasi masyarakat melalui “solidaritas organik” yang menimbulkan ikatan yang saling menguntungkan dan kontribusi anggota masyarakat akan saling melengkapi. Tonnies memasukkan Gemeinschaft dan Gesellschaft di bukunya (1887) satu diantara beberapa nomor yang dipaparkan, sebagai salah satu teori yang bersifat modern. Menurutnya Gemeinschaft adalah sebagai situasi yang berorientasi nilai nilai, aspiratif, memiliki peran, dan terkadang sebagai kebiasaan asal yang mendominasi kekuatan sosial. Jadi baginya secara tidak langsung Gemeinschaft timbul dari dalam individu dan adanya keinginan untu memiliki hubungan atau relasi yang didasarkan atas kesamaan dalam keinginan dan tindakan. Individu dalam hal ini diartikan sebagai pelekat/perekat dan pendukung dari kekuatan sosial yang terhubung dengan teman dan kerabatnya (keluarganya), yang dengannya mereka membangun hubungan emosional dan interaksi satu individu dengan individu yang lain. Status dianggap berdasarkan atas kelahiran, dan batasan mobilisasi juga kesatuan individu yang diketahui terhadap tempatnya di masyarakat. Sedangkan Gesellschaft, sebagai sesuatu yang kontras, menandakan terhadap perubahan yang berkembang, berperilaku rasional dalam suatu individu dalam kesehariannya, hubungan individu yang bersifat superficial (lemah, rendah, dangkal), tidak menyangkut orang tertentu, dan seringkali antar individu tak mengenal, seperti tergambar dalam berkurangnya peran dan bagian dalam tataran nilai, latar belakang, norma, dan sikap, bahkan peran pekerja tidak terakomodasi dengan baik seiring dengan bertambahnya arus urbanisasi dan migrasi juga mobilisasi. Tonnies memaparkan Gemeinschaft adalah wessenwill yaitu bentuk-bentuk kehendak, baik dalam arti positif maupun negatif, yang berakar pada manusia dan diperkuat oleh agama dan kepercayaan, yang berlaku didalam bagian tubuh dan perilaku atau kekuatan naluriah. Jadi, wessenwill itu sudah merupakan kodrat manusia yang timbul dari keseluruhan kehidupan alami. Sedangkan Gesselschaft adalah Kurwille yaitu merupakan bentuk-bentuk kehendak yang mendasarkan pada akal manusia yang ditujukan pada tujuan-tujuan tertentu dan sifatnya rasional dengan menggunakan alat-alat dari unsur-unsur kehidupan lainnya. Atau dapat pula berupa pertimbangan dan pertolongan. Tonnies membedakan Gemeinschaft menjadi 3 jenis, yaitu : 1) Gemeinschaft by blood, 2) Gemeinschaft of placo (locality 3) Gemeinschaft of mind, yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ideology atau pikiran yang sama. Dimana, dari ketiga bentuk ini dapat ditemui pada masyarakat, baik di kota maupun di desa. B. Ferdinand Tonnies dan Evolusi tanpa Kemajuan Apabila Durkheim menjelaskan tipologi perubahan masyarakat dengan membuat perbandingan “solidaritas mekanik” dan “solidaritas organik”, Spencer membuat tipe “masyarakat militer” vs “masyarakat industri”, Weber yang membagi “masyarakat agraris tradisional” dengan “masyarakat kapitalis”. Maka dibawah ini adalah tabel dikotomi serupa yang disajikan oleh Tonnies dalam Gemeinschaft und Gesellschaft (yang dipublikasikan pertamakali pada tahun 1887). Gemeinschaft (komunitas) ditandai oleh ikatan sosial bersifat pribadi, akrab, dan tatap muka (primer). Ciri-ciri ikatan sosial ini seperti yang dikemukakan sebelumnya ialah berubah menjadi impersonal, termediasi, dan sekunder dalam masyarakat modern (Gesellschaft). Keunikan pendekatan Tonnies terlihat dari sikap kritisnya terhadap masyarakat modern (Gesellschaft), terutama nostalgianya mengenai kehidupan tipe komunitas/kelompok/asosiasi (Gemeinschaft) yang lenyap. Tonnies adalah contoh langka penganut evolusionisme yang tak menganggap evolusi identik dengan kemajuan. Menurutnya, evolusi terjadi secara berlawanan dengan kebutuhan manusia, lebih menuju kearah memperburuk ketimbang meningkatkan kondisi kehidupan manusia. Dan dibawah ini adalah pemaparan Tonnies tentang perbedaan antar Gemeinschaft dengan Gesellschaft sebagai suatu perubahan yang justru bergerak kearah memperburuk, menurut dirinya. Ciri dari Gemeinschaft yaitu berbentuk komunitas sedangkan ciri dari Gesellschaft yaitu masyarakat modern Tentang hal ini pula secara tidak langsung bagi Tonies faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat dimana prinsip evolusi yang ia miliki hampir sama dan senada dengan prinsip evolusi ahli lain seperti Max Weber begitu juga dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diantara penyebab terjadi perubahan itu adalah adanya kecenderungan berfikir secara rasional, perubahan orientasi hidup, proses pandangan terhadap suatu aturan dan sistem organisasi. Sebagai contoh kasus ialah adanya suatu masyarakat bernama kampung Ambon di daerah Bekasi, dimana asalnya sebuah komunitas tersebut merupakan hanya kaum urban yang datang dari Ambon dan sekitarnya untuk mencari penghasilan dengan bekerja seadanya, namun seiring dengan perubahan masa, waktu dan zaman urbanisasi yang datang dari daerah tersebut semakin banyak dan mengikuti pendahulunya yang lain untuk menempati lokasi yang sama. Sehingga saat ini terbentuklan suatu masyarakat Ambon yang datang ke Jakarta setelah sebelumnya hanya sebuah komunitas belaka. Herbert Spencer

Hebert Spencer lahir pada tanggal 27 April 1820 di Derby Inggris. Ayahnya seorang guru, bersikap amat kritis terhadap agama, yang mana meninggalakan kesan yang dalam pada anaknya. Ia melepaskan iman Kristen. Selama hidupnya ia sukar diajak bergaul, dan ia selalu nampak beroposisi terhadap nilai-nilai budaya masyarakat. Ia tidak memperoleh pendidikan seni dan humaniora, melainkan sekolah teknik dan utilitarian. Tahun 1837 ia bekerja sebagai insinyaur teknik sipil untuk perusahaan kereta api sampai tahun 1846. Tahun 1848 Spencer ditunjuk sebagai editor majalah The Economist dan gagasan–gagasan intelektualnya mulai mengental. Pada tahun 1850 ia menyelesaikan karya utamanya social statics. A. Teori Evolusi Masyarakat Dan Lahirnya Darwinisme Sosial a. Hukum evolusi Di waktu spencer belajar tentang gagasan darwin, ia bertekad untuk mengenakan prinsip evolusi tidak hanya pada bidang biologi, melainkan pada semua bidang pengetahuan lain juga. Hebert mengajarkan bahwa pada permulaanya materi mempunyai struktur serba sama (homogeneous), tanpa diferensiasi. Materi sederhana itu terbentuk dari sejumlah besar partikel-partikel yang semuanya sama, tetapi dalam keadaan terkuasai oleh suatu daya gerak dari dalam yang membuat mereka bergabung. Perorangan-perorangan bergabung menjadi keluarga, keluarga-keluarga bergabung menjadi kelompok, kelompok menjadi desa, desa-desa menjadi kota-kota, kota menjadi negara, dan negara menjadi perserikatan bangsa-bangsa. Pada setiap tahapnya, evolusi adalah penyatuan dan pengintegrasian materi ke dalam kesatuan-kesatuan yang lebih besar dan lebih rumit strukturnya. Arah dan jalannya proses evolusi adalah peralihan adalam keadaan serba sama kepada keadaan yang serba beda. Bersamaan waktunya dengan proses pengintegrasian berlangsunglah juga kebalikanntya, yaitu proses disintegrasi. Akhirnya semua benda makhluk runtuh dan kembali kepada keadaan semula yang terpisah dan serba sama. Membangun dan merombak itulah irama alam semesta. Hukum pergandaan pengaruh adalah kunci untuk memahami rahasia evolusi baik di alam organik maupun di alam tak organik. spencer mengatakan bahwa hal itu tidak kita ketahui dan tak mungkin kita akan tahu. pihak atheisme dan filsafat Yunani telah menjawab, bahwa dunia ini kekal abadi adanya tanpa permulaan, tetapi Spencer berpendapat bahwa jawaban itu permainan kata sajadan pada pokoknya tidak berbeda dengan jawaban pihak agama, bahwa dunia diciptakan oleh Allah. jawaban itu tak memecahkan persoalan, hanya menggeserkannya. Lebih baik kita mengaku bahwa daya pengenalan manusia tidak mampu menjangkau suatu hal yang luput dari pengamatan inderawi. Oleh karena itu manusia tidak dijinkan menjauhkan diri dari data kongkret. b. Evolusi Masyarakat Teori Spencer mengenai evolusi masyarakat merupakan bagian dari teorinya yang lebih umum mengenai evolusi seluruh jagad raya. Dalam bukunya social statics masyarakat disamakan dengan suatu organisme. Ciri-ciri yang dikenakan pada badan hidup dapat dikenakan juga pada badan masyarakat. Masyarakat adalah organisme. semua gejala sosial diterangkan berdasarkan suatu penentuan oleh hukum alam. Hukum yang memerintah atas proses pertumbuhan fisik badan manusia, memerintah juga atas organisme, sebab para anggotanya berkewajiban untuk membangun masyarakat menjadi satu. Masyarakat dapat menjadi badan yang berintegrasi, asal anggotanya menyadari tanggung jawab mereka dan menyesuaikan perilaku mereka dengan norma itu. kata “organisme” dipinjam dari biologi demi suatu pengertian lebih baik. Tetapi tidak pernah dimaksudkan bahwa biologi dan sosiologi adalah sama. menurut spencer masyarakat adalah organisme yang berdiri sendiri dan berevolusi sendiri lepas dari kemauan dan tanggung jawab anggotanya, dan di bawah kuasa suatu hukum. Masyarakat mempunyai infrastruktur berupa jaringan jalan, jembatan, saluran telepon, dan sebagainya. Badan masyrakat berevolusi dari keadaan serba sama, dimana semua orang mempunyai fungsi dan kedudukan yang sama kepada suatu keadaan serba beda. Misalnya dalam keadaan sendirian ataun sebagai perorangan saja manusia tidak mampu bertahan. Maka ia merasa diri didorong dari dalam untuk bergaul dengan orang lain, supaya dengan berbuat demikian ia akan dapat melengkapi kekurangannya. Sebagaimana Comte membedakan tiga tahap evolusi dalam cara berpikir manusia, Demikian pula Spencer membedakan empat tahap dalam proses penggabungan materi. tahap-tahap itu antara lain : 1. Tahap pertama adalah tahap penggadaan atau pertambahan. Dalam tiap-tiap makhluk individual maupun tiap-tiap orde sosial dalam keseluruhannya selalu bertumbuh atau bertambah. 2. Tahap kompleksifikasi. Salah satu akibat pertambahan adalah makin rumitnya struktur organisme yang bersangkutan. Kita dapat membandingkan struktur protoplasma yang masih sangat sederhana dengan struktur otak manusia, yang paling rumit. Badan-badan sosial juga memperlihatkan keadaan yang sama. Struktur keorganisasian mereka makin lama makin kompleks. Misalnya sukarlah sekarang bagi orang biasa untuk mengenal struktur negara modern. 3. Tahap pembagian atau diferensiasi. Baik evolusi badan maupun evolusi sosial menonjolkan pembagian tugas dan fungsi yang semakin berbeda-beda. Perbedaan antara kesatuan-kesatuan tambah waktu tambah menyolok. Sel-sel yang membentuk kulit badan bersifat keras, sedangkan sel-sel yang membentuk organ-organ di dalam badan bersifat halus. Sel-sel otak berbeda jauh dari sel-sel lain baik dalam struktur maupun dalam fungsi. Hal yang sama kelihatan pada masyarakat juga. Pembagian kerja menghasilkan pelapisan sosial (stratifikasi). Masyarakat menjadi terbagi ke dalam kelas-kelas sosial. Misalnya, kelas cendekiawan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada petani dan buruh. Mereka membentuk kelas sendiri dengan tugas sendiri. 4. Tahap pengintegrasian. Dengan mengingat bahwa proses diferensiasi mengakibatkan bahaya perpecahan, maka kecenderungan negatif ini perlu dibendung dan diimbangi oleh proses yang mempersatukan. Pengintegrasian ini juga merupakan tahap dalm proses evolusi yang bersifat alami dan spontan-otomatis. Manusia sendiri tidak perlu mengambil inisiatif atau berbuat sesuatu untuk mencapai integrasi ini. Sebaiknya ia tinggal pasif saja, supaya hukum evolusi dengan sendirinya menghasilkan keadaan kerja sama yang seimbang itu. Proses pengintegrasian masyarakat berlangsung seperti halnya dengan proses pengintegrasian antara anggota-anggota badan fisik manusia. C. Darwinisme Sosial Pada tahun 1859 Charles Darwin ( 1809-1882 ) menerbitkan bukunya yang berjudul On the Origin of Species, or the Preservation of Favoured Reces in the Struggle for Life. Bukunya membaha proses evolusi organisasi-organisasi fisik. Beberapa teori social disemangati oleh teori evolusi Darwin dan mengambil bagan dan konsep mereka dari boilogi. Pertama, ia membuktikan bahwa awal permulaan bumi segala makhluk organis tidak dijadikan serentak menurut jenis mereka masing-masing. Variasi dan perbedaan sekarang tidak merupakan hasil langsung dari karya penciptaan yang satu kali selesai. Terjadinya macam-macam jenis yang tak terbilang banyaknya telah berlangsung dalam peredaran waktu yang ratusan juta tahun lamanya.Mereka merupakan hasil proses-proses adaptasi, perubahan, dan evolusi. Kedua, perubahan dan evolusi ini tidak terjadi dengan mengarah kepada suatu tujuan ( causa finalis ) yang telah diransangkan dan ditetapkan sejak permulaan. Evolusi bukanlah pelaksanaan tujuan, melainkan adaptasi terhadap lingkungan. Kondisi-kondisi lingkungan dan factor-faktor kebetulan material telah menentukan arah evolusi dan hasil yang diciptanya. Ketiga cara bagaimanakah proses evolusi berlangsung. Empat konsep dipakai untuk menggambarkan itu, yaitu struggle for life, survival of the fittest, natural selection, dan progress. Dalam struggle keras ini hanya jenis-jenis itu dapat bertahan yang peralatan dan kesehatannya paling baik untuk menghadapi tantangan situasi. Itu dimaksudkan dengan the survival of the fittes. Organisasi-organisai yang lemah atau tidak tepat guna akan mati dan menghilang sebelum mempergandakan diri. Dengan demikian alam sendiri mengadakan seleksi, yaitu natural selection atau pilihan alam. Seleksi ini mengakibatkan perubahan dan peningkatan mutu semua organism,yang disebut progress. Proses peningkatan ini tidak meliputi tiap-tiap organism individual, melainkan jenisnya dalam keseluruhan. Jadi kita harus membayangkan proses evolusi sebagai berikut Stuggle for life the survival of the fittest natural selection progress. Gagasan-gagasan inilah, khususnya keempat konsep di atas, telah mengilhami aliran yang di kenal sebagai Darwinisme Sosial. Kehidupan bersama dipandang sebagai medan peperangan dan adu kekuatan, dimana semua pihak saling bersaing dan berlawanan. Kebanyakan penganut Darwinisme Sosial berpegang pada suatu individualism kasar, dan beranggapan bahwa natural selection dan survival of the fittest harus dimengerti dalam arti biologis dan mendasari seta menyebabkan semua perubahan social. Teori-teori Darwinisme Sosial dapat digolongkan kedalam empat kelas, yaitu teori naluri, teori ras, teori determinisme, dan teori evolusi. 1. Teori Naluris Menurut teori ini, kesatuan masyarakat dan koherensinya disebabkan oleh suatu kecenderungan biologis dalan diri manusia, yaitu suatu naluri social yang disebut herd instinct atau gregarious instinct ( naluri kelompok ) yang membuat manusia mengakui dan menyukai teman-teman sesama. 2. Teori Ras Teori Ludwig Gumplowicz adalah teori perang dan kebalikan teori trotter. Ia yakin bahwa ia telah menemukan di dalam Darwinisme kunci rahasia yang mengungkap seluruh sejarah. Teori ini diterapkan pada sejarah. Sejarah adalah proses seleksi terus menerus, dimana golongan yang paling sehat dan kuat akhirnya selalu menang. 3. Teori Determinisme Teori ini dikemukakan Frederric le Play. Ada tiga tipe keluarga yang bersifat dasar yaitu family patriarchal, family tidak stabil, dan family pangkal. 4. Teori Evolusi Ada tiga teori evolusi dari abad lampau yaitu evolusionisme, involusionisme, dan teori sinkretistis • Teori evolusionsme adalah proses peningkatan ke arah tercapainya keadaan yang lebih sempurna. • Teori involusionisme, adalah ajaran bahwa manusia mengalami kemunduran. Caranya ia memecahakan masalah kehidupan dan kebudayaannya tidak senantiasa menunjukan kemajuan yang terus- menerus. • Teori Sinkritistis, adalah Nicholas Danilevsk(1822- 1885). Seorang Rusia pada tahun 1869 menerebitkan buku yang berjudul Rusia dan Europe. A menyebut tiga belas peradaban besar da;lam sejarah dunia yang masing- masing pernah mempunyai riwayat hidup yang kurang blebih sama dengan hidupnya organism, yaitu masa muda, masa dewasa, dan masa runtuh. Tiap- tiap peradaban mengembangkan cirri- cirinya yang unik dan istimewa di waktu ia dewasa. B. PEMBEDAAN MASYARAKAT MILITER Versus INDUSTRIAL Spencer membuat juga suatu pengelompokan tipe-tipe masyarakat berdasarkan ciri-ciri mereka. Ia membedakan antara dua bentuk kehidupan bersama, yaitu masyarakat miliralistis dan masyarakat industri. Kata militaristis dan kata “industri” menunjuk kepada suatu keadaan sosial yang diandaikan murni dan tidak tercampur dengan ciri-ciri lain. Tipologi tersebut di atas hendak menunjang semua masyarakat yang pernah ada, mulai dari masyarakat headhunters yang bercorak militaristis secara ekstrem, sampai kepada masyarakat Eskimo yang terkenal mencintai damai. Spencer berpendapat bahwa kegiatan pokok suatu masyarakat mempengaruhi, balikan menentukan corak semua pranatanya. Menurut singkatnya, evolusi dari keadaan militaristis ke arah industri terjadi di seluruh dunia. Umat manusia dilihatnya sebagai suatu keseluruhan yang sama. Dalam masyarakat miltaristis orang bersikap agresif. Mereka lebih suka merampas saja daripada bekerja produktif untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kepemimipinan atas tipe masyarakat ini berada di tangan orang yang kuat dan mahir di bidang peperangan atau pertempuran. Ia mempertahankan kekuasaanya dengan tangan besi, senjata, dan melalui takhayul. Oleh karena kekuatan fisik merupakan nilai budaya yang tinggi, maka kaum wanita mempunyai status rendah. Mereka dipaksa untuk bekerja keras. Kultur leluhur ini berevolusi menjadi politeisme, dan kemudian monoteisme. Jadi, di dalam masyarakat militaristis ketakutan terhadap orang mati mendasari kekuasaan agama, sedang ketakutan terhadap orang hidup mendasari kekuasaan politik. Kerja sama antara anggota masyarakat berasal dari paksaan dan ketakutan. Masyarakat industri itu adalah dimana masyarakat bekerja produktif dengan cara damai diutamakan di atas ekspedisi-ekspedisi perang. Spencer memakai kata “industri”, bukan untuk “teknologi” atau ‘rasionalisasi proses kerja”, melainkan dalam arti kerja sama spontan bebas demi tujuan damai. ciri-cirinya adalah demokrasi adanya kontrak kerja yang mengganti sistem budak, liberalisme dalam hal memilih agama, ada otonomi individu. Dalam bukunya The Man State Spencer menarik beberapa kesimpulan dari tesisnya, bahwa masyarakat industry harus dilihat sebagai pembebasan manusia dari cengkeraman negara dan agama, yang kedua-duanya bersifat absolutistis. Individu bermasyarakat dan bernegara untuk kepentingannya sendiri. Kerja sama antara orang dimaksudkan untuk melengkapi kekurangan individu. Jadi, masyarakat hanya salah satu sarana saja, yang ditambahkan dari luar pada hidup individu. Individu mendahului masyarakat. Oleh karena itu di satu pihak individu mempunyai kebutuhan yang bermacam-macam, sedang di pihak lain ia merasa lemah dan terbatas dalam kemampuannya, maka atas dasar pertimbangan rasional ia membentuk suatu “kongsi” atau “perkumpulan perseroan” atau badan kerja sama, yang disebut masyarakat atau Negara. Spencer menentang setiap bentuk campur tangan pemerintah dalam urusan ekonomi, seperti mengendalikan harga, memberi lisensi bersyarat, menetapkan upah minimum kaum buruh, dan sebagainya. Spencer juga menawarkan teori evolusi dari masyarakat militant ke masyarakat industry. Ia menduga pada periode awal peperangan berfungsi mengumpulkan masyarakat menjadi kumpulan masyarakat baru dengan kuantitas yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat industry. Bagaimanapun juga, sejalan dengan semakin tumbuhnya masyarakat industry, maka fungsi perang sebagai agen perubahan berakhir dan berubah menjadi penghambat proses selanjutnya dari evolusi. Masyarakat industry didasarkan pada persahabatan, tidak egois, eloborasi spesialisasi, penghargaan terhadap prestasi bukan terhadap karakteristik bawaan seseorang, dan secara sukarela melakukan kooperasi antarindividu berdisiplin tinggi. Masyarakat industry modern memiliki tingkat agresivitas jauh lebih rendah dibandingkan pendahulu mereka yang militant. Walaupun Spencer melihat evolusi umum yang mengarah kepada pembentukan masyarakat industry, akan tetapi ia juga mengakui adanya kemunduran periodik kepada masyarakat yang lebih agresif dan militan. C. SURVIVAL OF THE FITTEST Pada dasarnya survival of the fittest merupakan salah satu konsep yang di pakai untuk menggambarkan proses berlangsungnya evolusi. Ada empat tahap dalam menggambarkan berlangsunga evolusi yaitu struggle for life, the survival of the fittest, natural selection dan progress. Dalam struggle keras ini hanya jenis-jenis itu dapat bertahan yang peralatan dan kesehatannya paling baik untuk menghadapi tantangan situasi. Itu dimaksudkan dengan the survival of the fittes. Organisasi-organisai yang lemah atau tidak tepat guna akan mati dan menghilang sebelum mempergandakan diri. Dengan demikian alam sendiri mengadakan seleksi, yaitu natural selection atau pilihan alam. Seleksi ini mengakibatkan perubahan dan peningkatan mutu semua organism ,yang disebut progress. Proses peningkatan ini tidak meliputi tiap-tiap organism individual, melainkan jenisnya dalam keseluruhan. Jadi kita harus membayangkan proses evolusi sebagai berikut Stuggle for life the survival of the fittest natural selection progress. Gagasan-gagasan inilah, khususnya keempat konsep di atas, telah mengilhami aliran yang di kenal sebagai Darwinisme Sosial. Kehidupan bersama dipandang sebagai medan peperangan dan adu kekuatan, dimana semua pihak saling bersaing dan berlawanan. Kebanyakan penganut Darwinisme Sosial berpegang pada suatu individualism kasar, dan beranggapan bahwa natural selection dan survival of the fittest harus dimengerti dalam arti biologis dan mendasari seta menyebabkan semua perubahan social. Sebagai contoh seperti yang kita ketahui kondisi geografis daerah gunung kiddul barada di daerah pegunungan yang kondisi tanahnya tandus dan sebagian daerah di gunung kidul kekurangan air. Terlebih lagi pada saat musim kemarau tiba air sangat sulit di temukan. Oleh karena itu pada saat musim hujan datang masyarakat membuat tampungan air untuk menampung air hujan. Air hujan salah satu cara mereka untuk bertahan hidup. Namun tidak semua masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut dapat bertahan dengan kondisi yang seperti itu. Ada yang pergi meninggalkan daerah tersebut untuk mencari kehidupan yang layak ke daerah lain, bahkan ada juga yang sampai bunuh diri karena tidak sanggup untuk bertahan hidup. Hal ini merupakan contoh konkrit dari Natural selection. Selanjutnya setelah individu tersebut mengalami natural selection, maka ada individu yang mampu bertahan dan melanjutkan hidupnya. Dan inilah yang disebut dengan tahapan progress.